Kamis, 02 Februari 2017

“MANDAR” SEBAGAI IDENTITAS POLITIK ATAU IDENTITAS BUDAYA?
Mandar merupakan nama salah satu suku besar yang mendiami daerah Sulawesi Selatan sebelum memisahkan diri dengan induknya dan membentuk sebuah daerah baru bernama Sulawesi Barat. Cikal bakal penduduk yang mendiami daerah Mandar adalah kelompok-kelompok masyarakat yang masing-masing dipimpin oleh Tomakaka (dapat diartikan sebagai seorang kakak atau orang yang lebih dituakan sehingga diangkat sebagai seorang pemimpin dalam suatu satu tempat).  Untuk lebih memahami tentang identitas Mandar yang sebenarnya, marilah terlebih dahulu menyimak tentang sejarah terbentuknya persekutuan Mandar.

Kondisi kehidupan pada masa Tomakaka memiliki kebebasan dan kemerdekaannya dalam melaksanakan pemerintahan dan mengatur masyarakatnya masing-masing. Pemimpin-pemimpin dalam satu tempat memiliki otonomi dalam membuat aturan atau kebijakan untuk masyarakatnya. Jadi antara satu tempat dengan tempat lainnya memiliki aturan yang berbeda. Kondisi ini sangat rentan memicu konflik antara satu pemimpin dengan pemimpin lainnya yang biasanya memicu terjadinya perang antar kelompok. Peperangan biasanya dilakukan untuk memperluas kekuasaan demi mendapatkan daerah baru. Perang ini juga merupakan sebagai ajang unjuk kekuatan kepada kelompok lain untuk memperlihatkan bahwa kelompoknya lah yang paling kuat. Beberapa pemimpin kelompok juga menggabungkan kekuatannya agar mereka dapat menaklukkan sebuah daerah dengan mudah. Konflik dan peperangan yang terjadi dimana-mana berlangsung sangat lama sehingga menyebabkan kondisi masyarakat Mandar pada saat itu tidak tentram dan tidak stabil.

Konflik ini akhirnya berhasil dipadamkan oleh seorang panglima perang dari kerajaan Gowa yang merupakan putera asli Mandar bernama I Manyambungi atau yang lebih dikenal dengan nama Todilaling. I Manyambungi menyerang beberapa kelompok masyarakat yang dianggap telah berbuat onar dan menyebarkan teror di beberapa derah Mandar. Setelah kondisi aman dan penyebar teror berhasil dikalahkan, I Manyambungi kemudian membentuk sebuah kerajaan yang besar dan merupakan gabungan dari beberapa wilayah Tomakaka bernama Kerajaan Balanipa dan I Manyambungi sendiri yang menjadi raja pertama.

Setelah I Manyambungi wafat, ia kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Tomepayung. Pada masanya, Tomepayung berhasil menghimpun kekuatan dengan beberapa kerajaan di Mandar dalam perjanjian Tammejarra I yang dilaksanakan di Desa Tammejarra pada tahun 1580. Perjanjian ini dihadiri oleh 6 kerajaan besar yang mendiami daerah pesisir dan akhirnya membentuk sebuah persekutuan politik yang bernama Pitu Ba’bana Binanga (7 Kerajaan daerah pesisir) dengan tujuan untuk saling tolong menolong ketika salah satu kerajaan membutuhkan. Di daerah pegunungan, sebuah konfederasi politikpun terbentuk. 7 kerajaan yang berada di daerah pegunungan membentuk sebuah konfederasi politik bernama Pitu Ulunna Salu (7 Kerajaan yang berada di hulu sungai).

Setelah Tomepayung wafat, belau kemudian digantikan raja selanjutnya yang bernama I Daetta. Raja sebelumnya telah berhasil menghimpun kekuatan politik yang sangat besar di daerah pesisir pantai, I Daetta kemudian berinisiatif untuk membentuk sebuah konfederasi yang lebih besar lagi bersama dengan 7 kerajaan yang berada di hulu sungai. I Daetta bersama dengan beberapa kerajaan lain yang tergabung dalam konfederasi Pitu Ba’bana Binanga melakukan sebuah perjanjian poltik dengan konfederasi Pitu Ulunna Salu pada tahun 1610. Perjanjian ini  disebut dengan Tammejarra II. Perjanjian ini menyepakati agar kerajaan dari Pitu Ba’bana Binanga dan Pitu Ulunna Salu saling menjaga dari serangan kerajaan lain di luar wilayah Mandar. Pitu Ba’bana Binanga menghadang serangan dari arah pesisir pantai atau laut sedangkan Pitu Ulunna Salu menghadang serangan dari arah gunung atau hulu sungai.

Kata Mandar memiliki beberapa arti. Banyak penggiat sejarah dan budaya yang kemudian menafsirkan arti dari kata Mandar. Ada yang berpendapat bahwa kata Mandar diambil dari nama sebuah sungai yang berada di Kerajaan Balanipa. Namun ada pula beberapa pendapat lain, A. Syaiful Sinrang (Tokoh Penggiat sejarah di Mandar) mengatakan bahwa Mandar berarti Cahaya sedangkan Darwis Hamzah mengatakan bahwa Mandar berasal dari kata Sipamandaq yaitu saling menguatkan.
Dari beberapa penjelasan di atas jelas bahwa kata Mandar bukan untuk menyebut sebuah identitas budaya maupun bahasa melainkan untuk menunjukkan sebuah daerah atau tempat. Daerah atau tempat yang dimaksud adalah seluruh kerajaan yang tergabung dalam perjanjian Tammejarra II. Perjalanan sejarah pun mengatakan demikian, perjanjian Tammejarra I dan II menunjukkan bahwa semua kerajaan harus saling melindungi dan saling menguatkan. Hal tersebut sama dengan arti kata Mandar yang saling menguatkan. Jadi identiras Mandar yang sebenarnya menunjukkan sebuah tempat atau daerah bukan menunjukkan bahasa atau budaya.

Namun, banyak masyarakat saat ini yang salah paham mengenai kata Mandar. Menurut sebagian besar masyarakat, kata Mandar dipakai untuk menunjukkan bahasa maupun budaya. Mereka menganggap orang Mandar adalah orang yang berbahasa Mandar. akan tetapi bahasa dan budaya di daerah Mandar berbeda-beda. Contohnya saja masyarakat yang ada di Mamuju dan Mamasa, mereka memakai bahasa dan logat yang berbeda dari masyarakat yang ada di daerah Majene. Menurut penafsiran saya, bahasa Mandar yang umum digunakan oleh masyarakat Mandar saat ini berasal dari daerah Balanipa. Seperti yang saya sebutkan tadi, salah satu asal mula kata Mandar berasal dari sungai Mandar yang berada di daerah Balanipa, jadi mereka menyebutnya dengan bahasa Mandar. Arti kata Mandar akan terlalu sempit Jika kita memaknai orang Mandar adalah seseorang yang mampu berbahasa Mandar. Banyak orang yang tidak akan mengaku bahwa dirinya adalah orang Mandar dan banyak pula wilayah yang tidak termasuk dalam wilayah administrasi Sulawesi Barat karena masing-masing tempat memiliki bahasa dan budayanya sendiri. 


Persatuan politik di Mandar telah terealisasi setelah terbentuknya Sulawesi Barat yang daerahnya meliputi bekas wilayah Konfederasi Tammejarra II. Jadi paradigma masyarakat mengenai kata Mandar harus diubah. Kita harus memahami arti kata Mandar yang sebenarnya sebagai identitas politik yang menyatukan seluruh masyarakat dari perbatasan Kabupaten Polewali Mandar sampai di penghujung Kabupaten Mamuju Utara.  

JEJAK PENGABDIAN DI PERBATASAN BARAT WAROPEN, PAPUA



Pendidikan merupakan hak segala bangsa begitupun mereka yang berada di pelosok negeri. Sarana dan Prasarana yang tidak memadai menjadikan mereka "spesial" di banding mereka yang mendapatkan sarana dan prasarana yang layak di Bidang Pendidikan. walaupun dengan segala keterbatasannya, mereka tetap semangat untuk menuntut ilmu demi meraih mimpi-mimpi kecilnya.

Pemerintah telah melaksanakan Program SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Teringgal) untuk mengatasi kekuarangan guru dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah Pedalaman. Program ini mengirimkan tenaga guru yang sudah melewati serangkaian tes dengan tingkatan yang cukup sulit. mereka yang lulus adalah pilihan dari negara untuk mengemban tugas penting demi menciptakan generasi emas Indonesia. Calon Guru Profesional ini nantinya harus mengabdi selama setahun untuk mendidik mereka yang berada di pelosok negeri

Motto "Setahun Mengabdi, Selamanya Menginspirasi" menjadi penyemangan dalam melaksanakan Tugas. berikut adalah Video Dokumenter mengenai pengabdian saya sebagai Guru SM-3T di SD Negeri Dokis, Kampung Dokis, Distrik Wapoga, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua.